ANTARA - Peristiwa

Wednesday, January 20, 2010

JAL bangkrut



INILAH.COM, Tokyo – Setelah lama terombang-ambing, maskapai penerbangan Japan Airlines (JAL) akhirnya mengajukan bangkrut. Ini adalah kegagalan terbesar perusahaan Jepang dalam sejarah.

“Siang ini, dewan direksi JAL mengadakan rapat terakhir sebelum mengajukan perlindungan terhadap kreditur melalui Undang-Undang ‘Corporate Rehabilitation Law’,” demikian dilaporkan Kyodo News Agency, Selasa (19/1).

“Mereka juga akan mengajukan rencana restrukturisasi baru yang juga disusun badan pemerintah yang menangani pasca pengajuan bangkrut,” lanjutnya.

Dalam rencana itu, CEO JAL Haruka Nishimatsu diharapkan segera mengajukan pengunduran dirinya. Pucuk pimpinan akan diambil oleh Kazuo Inamori, seorang biksu Budha. Ia pendiri perusahaan komponen elektronik Kyocera Inc. dan provider ponsel nomor dua terbesar di Jepang, KDDI Corp.

Selain itu, juga akan ada PHK sekitar 15.600 karyawan atau sepertiga pekerja di maskapai itu hingga Maret 2013. JAL harus mengurangi hingga setengah anak perusahaan, mulai dari bisnis hotel hingga kartu kredit.

Pemerintah berjanji akan terus mendukung rehabilitasi korporasi tanpa menghentikan operasi JAL. Perusahaan ini kesulitan bertahan dengan utang sebesar 1,5 triliun yen (US$16,6 miliar). Trafik penerbangan JAL terus menurun ketika krisis ekonomi global, kekhawatiran flu H1N1, serta persaingan dari maskapai Jepang lainnya, All Nipppon Airways Co.
Harga selembar saham maskapai penerbangan Japan Airlines (JAL) terpuruk ke angka terendah lima yen atau sekitar Rp 500 setelah JAL diperkirakan akan mengajukan permohonan pailit.

Pengajuan pailit itu adalah bagian dari proses penyelamatan pemerintah yang tampaknya akan diumumkan hari Selasa, demikian menurut sejumlah laporan.

JAL menderita kerugian sekitar US$ 1,5 miliar dalam enam bulan sampai September lalu, dan sekarang nilai perusahaan JAL hanya US$ 150 juta, lebih murah dari harga sebuah pesawat jet besar yang baru.

Saham perusahaan itu pernah mencapai harga 366 yen per lembar pada tahun 2003.

Walaupun rencana penyelamatan oleh pemerintah berarti perusahaan penerbangan Jepang itu akan terus beroperasi, para investor yang memiliki saham JAL tampaknya akan menderita kerugian besar.

JAL dan perusahaan-perusahaan penerbangan besar dunia lainnya terpukul keras oleh krisis ekonomi global yang menyebabkan jumlah penumpang turun tajam.

No comments:

Post a Comment