ANTARA - Peristiwa

Saturday, October 10, 2009

Pembela Miyabi

Sejumlah Warga Jakarta Bentuk Front Pembela Miyabi

Sabtu, 10 Oktober 2009 | 15:15 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Sejumlah warga Jakarta mendukung kedatangan bintang film porno asal Jepang, Maria Ozawa alias Miyabi ke Indonesia.

"Justru kalau Miyabi main film disini, nama Indonesia juga ikut terkenal," kata Moses Silalahi, 29 tahun, warga Petukangan Utara, Jakarta Selatan.

Apalagi, lanjut dia, Miyabi tidak main film porno di Indonesia, melainkan film komedi. "Ini demi kemajuan film di Indonesia. Tak ada hukum yang dilanggar," ujarnya.

Ia dan teman-temannya yang sealiran pun berencana memberikan dukungan kepada Miyabi dengan membentuk Front Pembela Kedatangan Miyabi.

"Front ini untuk mengimbangi mereka-mereka yang menolak kedatangan Miyabi. Yang menurut saya alasan mereka tidak masuk akal," katanya. Menurut dia, penolakan ini justru akan mencoreng wajah bangsa Indonesia yang mendukung keberagaman dan demokrasi.

Front yang rencananya dideklarasikan pekan depan ini, pertama-tama akan menggalang para pendukung di ranah maya atau internet. "Karena lebih terbuka dan luas. Siapa saja yang sejalan dengan kami, bisa bergabung," katanya.

Friday, August 28, 2009

Berita Investasi

GGRM: Dihadang Tarif Cukai 5-6%, Diharapkan Masih Bisa Tumbuh
Jumat, 28 Agustus 2009 15:30 WIB

(Vibiznews – Stocks) Emiten rokok, PT Gudang Garam tbk (GGRM) kabarnya akan sedikit terguncang kinerjanya karena kenaikan tarif cukai rokok 5-6%. Dimana pihak pemerintah mengimbangi target setoran cukai rokok tahun depan yang meningkat Rp 330 miliar menjadi Rp 57,33 triliun.

Kemungkinan besar pihak GGRM seperti biasa akan menaikkan harga jual untuk mengantisipasi kenaikan tarif cukai tersebut untuk menjaga tingkat pendapatannya. Dimana hampir tiap tahun pemerintah menaikkan tarif cukai rokok pada kisaran rata-rata 7%. Sehingga meskipun tarif cukai naik diperkirakan tidak akan terlalu menggangu kinerja GGRM yang cenderung bisa terus tumbuh dengan membaca selesar pasar.

Sebagai informasi, sepanjang semester I 2009 sendiri kinerja GGRM cukup memuaskan dengan laba sebelum pajak yang naik hingga 60% menjadi Rp 2,124 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,313 triliun dipicu turunnya beban pokok penjualan, meskipun penjualan cenderung stagnan di sebesar Rp 15,065 triliun.

Analis Vibiz Research unit dari Vibiz Consulting melihat hambatan yang datang dari kenaikan tariff cukai sudah “biasa” dihadapi oleh GGRM. Sehingga diperkirakan pihak perusahaan sudah memiliki langkah antisipatif yang tepat untuk menyiasatinya. Selain itu permintaan masyrakat atas rokok kretek juga masih tetap tinggi, sehingga kemungkinan GGRM untuk tumbuh masih terbuka lebar.

(Nanda Sitepu/NS/vbn)

Wednesday, July 22, 2009

Polisi Malaysia Periksa Pendukung JI

Rabu, 22 Juli 2009 | 11:44 WIB | Posts by: adm

KUALA LUMPUR | SURYA.CO.ID — Kepolisian Malaysia memeriksa tiga pendukung kelompok militan paling dicari di kawasan Asia Tenggara. Pemeriksaan itu merupakan bagian dari penyelidikan pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Jakarta pekan lalu. Demikian dikatakan oleh seorang menteri di Kuala Lumpur, Selasa (21/7).

Intelijen polisi telah menyatakan bahwa Noordin Mohammad Top, seorang warga Malaysia, tidak berada di dalam negeri, tetapi polisi memantau para pendukungnya. Hal itu disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Malaysia Hishammuddin Hussein.

”Kami selalu mengawasi mereka. Sebenarnya, kami menangkap tiga di antara mereka sebelum ada bom di Jakarta. Mereka membantu kami mengadakan penyelidikan,” ujar menteri.

Ketiga orang itu semuanya warga Malaysia dan dicurigai sebagai anggota kelompok Jemaah Islamiyah (JI). Pada 25 Juni polisi mengatakan telah menangkap tiga orang yang dicurigai sebagai anggota JI di Negara Bagian Johor.

Pemerintah Indonesia tengah mencari Noordin yang memiliki hubungan dengan empat penyerangan sebelumnya di Indonesia sejak tahun 2002. Noordin memimpin cabang JI, Tanzim Qaidat al-Jihad. Organisasi ini sering disebut sebagai Al Qaeda di kepulauan Melayu. Tujuannya adalah membentuk negara Muslim di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Filipina.

Hishammuddin menyatakan belum ada petunjuk yang nyata bahwa Noordin berada di balik dua bom bunuh diri di Jakarta.

”Terorisme merupakan jaringan orang. Kami bekerja sama dengan baik dengan intelijen dari Indonesia. Beberapa orang kami sudah berada di sana. Kami akan melakukan kerja sama penuh,” katanya.

Indonesia mengatakan, materi bom yang didapatkan dari kedua hotel ”identik” dengan materi yang digunakan oleh JI pada penyerangan sebelumnya. Polisi juga tengah berupaya menelusuri sumber-sumber keuangan jaringan itu untuk mencari hubungannya dengan pengeboman tersebut. ap/kompas/joe